Sabtu, 21 Februari 2009

Pelelangan

Pemilik keris nagasasra benda sejarah yang sangat langka ini dan mempunyai daya linuwih dan perbawa yang sangat besar tsb sudah membuka pelelangan resmi di Pusat Pelelangan Benda Sejarah.
Pelelangan Keris Nagasasra ini secara Resmi akan dibuka :

Tanggal 1 Maret 2009 s/d 10 april 2009
Dengan Harga Pembukaan Lelang sebesar Rp 1000.000.000,-
( Satu Milyar Rupiah )

Peserta Lelang adalah Seluruh Kolektor di Seluruh Dunia

Pendaftaran Lelang Kpd : R.R. Harno
email : dunialelang@gmail.com
Hp : 0817460680

Keris Nagasasra


NAGA SASRA adalah salah satu nama Dapur Keris Luk 13 dengan Gandik berbentuk kepala Naga yang badannya menjulur mengikuti sampai ke hampir pucuk bilah. Salah satu Dapur Keris yang paling terkenal walaupun jarang sekali dijumpai adanya keris Naga Sasra Tangguh tua. Umumnya keris dapur Naga Sasra dihiasi dengan kinatah emas sehingga penampilannya terkesan indah dan lebih berwibawa.

Keris ini memiliki gaya seperti umumnya keris Mataram Senopaten yang bentuk bilahnya ramping seperti keris Majapahit, tetapi besi dan penerapan pamor serta gaya pada wadidhangnya menunjukkan ciri Mataram Senopaten. Sepertinya berasal dari era Majapahit akhir atau bisa juga awal era Mataram Senopaten (akhir abad ke 15 sampai awal abad ke 16). Keris ini dulunya memiliki kinatah Kamarogan yang karena perjalanan waktu, akhirnya kinatah emas tersebut hilang terkelupas. Tetapi secara keseluruhan, terutama bilah masih bisa dikatakan utuh. Keris Dapur Naga Sasra berarti Ular yang jumlahnya seribu (beribu-ribu) dan juga dikenal sebagai keris dapur Sisik Sewu.

Kamis, 12 Februari 2009

sejarah

Keris Nagasasra dan Sabuk Inten adalah sepasang keris pusaka dari jaman majapahit. Kedua bilah keris ini menjadi simbol kekuasaan raja-raja Majapahit yang diperkirakan dibuat pada abad ketigabelas. Keris ini tidak bia berdiri terpisah, dan merupakan lambang menyatunya Kawula Gusti (Abdi dan Raja) atau juga sering dianggap sebagai simbol penyatuan antara manusia dan Tuhan.
Keris Kyai Nagasasra berwarna putih kekuningan, dibuat oleh Mpu Supa Madrangki. Disebut dengan julukan Kyai Nagasasra karena pada badan keris ini tergambar seekor ular naga berwarna keemasan dengan banyak sisik. Keris ini memiliki luk 13, simbolisasi kebangunan jiwa dan keselarasan.
Sementara Kyai Sabuk Inten dibuat oleh Mpu Domas, memiliki luk 11, berwarna kebiru-biruan. Keris ini menjadi simbolisasi welas asih. Disebut dengan julukan Sabukinten karena pada bagian bawah keris terdapat selapis garis pamor berwarna putih intan.
Ketika Majapahit runtuh, kedua bilah keris itu dibawa ke keraton Demak oleh Raden Patah. Kemudian ketika Kerajaan Demak runtuh, keris keris tersebut dibawa oleh Jaka Tingkir yang kemudian menjadi raja di Keraton Pajang. Dan seterusnya kedua keris tersebut berada di bawah penguasaan raja-raja Mataram dan keturunannya sampai sekarang.
Saat ini keris-keris tersebut disimpan di Keraton Solo (tahun 1974, menurut Ensiklopedi Keris karya Bambang Harsrinuksmo, keris ini dibuatkan warangka baru--dari kayu cendana wangi). Banyak tiruan keris ini, yang beredar di mana-mana sampai kini--dimiliki perseorangan kolektor ataupun pejabat dan diperjualbelikan dengan harga beragam dari Rp 200 ribu hingga sekitar Rp 4 miliar.
Kedua keris ini memang menjadi makin populer saat S.H. Mintardja mencipta kisah roman silat Nagasasra Sabukinten